TANAM ILMU SEKARANG PETIK HARI DEPAN

Rabu, 21 Mei 2008

Asus Eee PC 8,9 inci Tersedia di Indonesia

. Rabu, 21 Mei 2008
0 komentar

Laptop mungil Asus Eee PC dengan versi layar 8,9 inci mulai resmi tersedia di pasar Indonesia. Asus menyediakan dua pilihan untuk tipe Eee PC 900 baik dari warna dan spesifikasi.

"Kini Asus memperkenalkan Eee PC 900, generasi kedua dari keluarga Eee PC dengan ukuran layar yang lebih besar, kapasitas lebih besar, tetapi tetap ringan di bawah 1 kilogram," ujar Willy Halim, Country Manager Asus Indonesia pada peluncurannya di Jakarta, Rabu (21/5).

Tipe tersebut tersedia dalam dua versi, masing-masing Eee PC 900 dan Eee PC 900XP. Eee PC 900 menggunakan sistem operasi Linux Xandros yang didesain khusus untuk laptop tersebut seperti tipe sebelumnya. Sementara Eee PC 900XP menggunakan sitem operasi Windows XP. Jika Eee PC 900 dilengkapi media penyimpan SSD (solid state disc) 20 GB, sedangkan Eee PC 900XP hanya 12 GB.

Selain layar lebih lebar daripada versi sebelumnya, keduanya sama-sama dilengkapi kamera web lebih baik, dari 1 megapiksel menjadi 1,3 megapiksel. Selain itu, memori juga ditingkatkan dari 512 MB pada versi sebelumnya menjadi 1 GB. Tampilan casing juga mengalami perubahan dari lapisan luar dove menjadi mengilat seperti permukaan kulit kerang.

Baik versi Linux maupun Windows sudah dilengkapi aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan untuk mengolah gambar, suara, dan dokumen. Jika pada versi Linux menggunakan Open Office di antara sekitar 40 aplikasi lainnya, pada versi Windows menggunakan Sun StarSuite dan Microsoft Works untuk mengolah dokumen serta InterVideo Xpack untuk multimedia.

"Mulai minggu ini, keduanya sudah tersedia di reseller-reseller kami," ujar Ismail Maksum, Channel Specialist SEA Sales and Marketing Dept. Asus Technology Pte Ltd. Meski Asustek mengeluarkan lima warna, di Indonesia hanya akan masuk laptop dengan pilihan warna putih dan hitam. Eee Pc 900 yang menggunakan Linux dijual Ro5,7 juta sedangkan Eee PC 900XP dijual Rp5,9 juta. (kompas.com)

Klik disini untuk melanjutkan »»

Minggu, 10 Februari 2008

Suara hati Seorang Guru

. Minggu, 10 Februari 2008
0 komentar

Waktu itu aku sedang asyik duduk-duduk di trotoar kemudian agak kaget sedikit ketika ada tangan yang tiba-tiba menepuk bahuku. Ah, kiranya seorang teman lama yang juga punya tujuan yang sama (jemput istri). Teman tadi sebut saja dengan nama Pak A kemudian ambil posisi duduk di sampingku. Obrolan hangatpun langsung mengalir tanpa batas. Tema yang kemudian menjadi pembicaraan kami adalah pendidikan anak.

Yach, anak-anak yang menjadi tumpuan kami untuk menjadi penerus di masa yang akan datang. Ketika jam menunjukkan angka pukul 15.00 Wib tanpa terasa obrolan kian panas begitu kita membicarakan tugas sebagai pendidik. Anak - anak yang masih lugu harus kita didik di rumah walau dengan waktu yang sangat-sangat pendek, di sekolah dengan lingkungan sekolah dengan beragam macam karakter mulai dari guru, murid, maupun lingkungan dengan waktu yang tertentu pula dan yang terakhir yang menurut kami mempunyai waktu terbesar adalah lingkungan setelah sekolah.

Lingkungan setelah sekolah atau waktu luang setelah sekolah merupakan waktu yang sangat sulit pendeteksian aktivitas anak-anak kita. Mari kita renungkan ketika kita berangkat pagi kurang lebih pukul 06.00 Wib kemudian sampai di rumah lagi pukul 17.00 kadang lebih, sedang anak-anak kita kebetulan masih balita dan yang besar kelas 2 SD. Di rumah setelah sekolah mereka kita percayakan kepada khadimat atau orang yang kita percaya untuk dapat mengawasi/mendidik anak kita . Alhamdulillah, masih ada rekan, saudara, bapak/ibu kita yang masih mau kita "titipi" anak-anak kita.

Tapi ada suara hati yang selalu menusuk-nusuk hati kami ketika kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup (yang di dunia maupun yang di akhirat) yang notabene juga salah satunya untuk pendidikan anak. Dimana kami yang kebetulan bekerja sebagai guru swasta dengan penghasilan yang pas (walau tidak semua) sangat sulit menemukan sekolah dengan biaya yang bisa kita jangkau tetapi mempunyai orientasi ke depan sangat baik dari segi sikap, pengetahuan maupun ketrampilan minimal standar kami.

Sekolah yang yang kita idamkan untuk dapat kita "titipi" anak-anak kita ternyata masih jauh dari jangkauan kami. Disitulah hati ini terasa teriris-iris, kami yang notabene seorang guru yang mengajar/mendidik "anak-anak orang lain" dengan harapan-harapan yang sesuai dengan visi misi sekolah, ternyata anak-anak kita belum "terdidik" minimal dengan harapan-harapan kita dan visi misi sekolah yang kita "titipi"sebagai seorang guru ketika kita mendidik "anak-anak orang lain".

Itulah yang menjadikan renungan kami, Kita bekerja salah satunya untuk kebutuhan ekonomi kita tetapi di sisi yang lain kebutuhan pendidikan anak-anak kita belum dapat maksimal ketika kita "titipkan" ke sekolah yang sesuai dengan jangkauan ekonomi kita tetapi secara prinsip belum sesuai dengan harapan-harapan kita sebagai seorang wali murid. Memang pendidikan tidak seluruhnya dipasrahkan ke sekolah tetapi bagaimana pemanfaatan waktu yang baik di lingkungan sekolah, rumah maupun keluarga kita. Akhirnya mari kita bersama selalu dan selalu mencari solusi yang terbaik untuk tidak hanya anak-anak kita tetapi juga anak-anak didik agar ke depan dapat menjadi penerus yang dapat diandalkan baik untuk diri sendiri, keluarga, dan agama.

Klik disini untuk melanjutkan »»

Selasa, 18 Desember 2007

INSTANSI TERKORUP

. Selasa, 18 Desember 2007
0 komentar

Kepolisian Negara RI adalah instansi paling korup dengan skor 4,2. Duduk di urutan kedua lembaga pengadilan dan parlemen dengan skor 4,1. Urutan ketiga ditempati partai politik dengan skor 4,0. Hasil itu tidak mengejutkan, sudah bisa diduga. Tajuk penelitian Barometer Korupsi Global 2007 yang diselenggarakan Gallup International ini memakai pendapat masyarakat mengenai korupsi dan catatan negara tentang lembaga publik yang meminta suap. Data diperoleh lewat wawancara 1.010 responden yang tinggal di perkotaan dengan metode sampling kuota. Dibandingkan dengan hasil penelitian oleh lembaga yang sama tahun 2005, 2006, dan 2007, hasil itu menarik. Pada tahun 2005 polisi mendapat skor 4,0, tahun 2006 skor 4,2, dan 2007 skor 4,2. Skor tahun 2005 dua tingkat di bawah skor tahun 2006 dan 2007. Pilihan masyarakat kota sebagai responden, kelompok warga masyarakat yang relatif lebih kritis dibandingkan dengan masyarakat pedesaan, mengasumsikan sudah dengan sendirinya mereka bersikap negatif terhadap perilaku polisi. Apalagi sehari-hari mereka berhadapan langsung dengan polisi, dalam jumlah, jenis, dan variasi masalah dan kasus yang lebih banyak dan lebih rumit daripada masyarakat pedesaan. Ditambah persepsi negatif sebelumnya, skor yang turun itu kembali naik ketika harapan baru tidak kunjung tiba. Perilaku "klasik" polisi, yang dipersepsikan suka terima suap dan suka memanfaatkan kesempatan, tampil kembali. Polri dengan sosok-sosok polisi di lapangan dipersepsikan sebagai instansi dan sosok paling korup. Di tengah upaya Polri mengembangkan kompetensi dan membangun citra baik plus kepercayaan, sering upaya itu direcoki perilaku beberapa oknum yang secara tidak langsung membuat citra korps Polri "terjun bebas". Coreng hitam wajah Polri lebih terungkap daripada keberhasilan dan citra baik yang sudah terbangun. Membangun kembali kepercayaan termasuk merawatnya jauh lebih sulit daripada membangun. Keberhasilan demi keberhasilan, sebagai contoh menangani terorisme, membongkar perdagangan narkoba, menangani pembalakan liar yang malah "bentrok" dengan instansi pemerintah lain, terhapus oleh beberapa bentuk perilaku buruk yang selama ini menjadi persepsi umum. Slogan Polri "siap melayani" tidak hanya selesai dengan menempelkan stiker dan pintu masuk kantor polisi. Membangun citra yang baik tidak hanya mengandalkan kompetensi dan profesionalitas. Membangun citra perlu dilandasi sikap masyarakat sebagai mitra, masyarakat sebagai warga yang perlu dilayani dan dilindungi. Itulah ujian bagi Polri sebagai "penegak hukum jalanan", menurut istilah Prof Satjipto Rahardjo, aparat yang langsung berada di arena perang. Persepsi Polri sebagai instansi paling korup tak perlu mengecilkan hati. Tempatkan skor terkorup itu pelecut saat bertugas di berbagai "medan perang" dengan "senyum, sapa, dan salam".
Disadur dari harian kompas kolom tajuk rencana***

Klik disini untuk melanjutkan »»

Rabu, 12 Desember 2007

HANYA SEBAIT DOA

. Rabu, 12 Desember 2007
0 komentar

Mendidik itu tidaklah sama dengan logika matematika yang pasti akan berjumlah empat jika ia merupakan pertambahan dua dengan dua. Mendidik itu selayaknyalah kita pahami dengan pendekatan seni. Muhammad Qutb menegaskan hal ini dengan medefinisikan pendidikan itu hanya dengan tiga kata yaitu Seni Membentuk Manusia.

Seperti halnya seni, ia harus masuk ke dalam relung-relung jiwa untuk menggugahnya agar kemudian ia dapat terbang melesat tinggi ke angkasa. Seperti ungkapan seorang penyair arab :
“ bila jiwa itu besar, raga akan lelah mengikutinya”.

Karena itulah mendidik tersebut akan menyerap sangat besar energi kita, yang akan sangat mungkin membuat kita menjadi letih. Ditambah lagi dengan kondisi yang tidak menjanjikan kepastian seperti halnya logika matematika.

Karena itu semua, kita akan sangat membutuhkan bantuan darimana saja dan dari siapapun jua. Dan salah satu bantuan yang utama adalah Doa.

Sepertiga malam yang terakhir adalah waktu yang sangat mulia dan mustajab untuk berdoa. Karenanya berdoalah kita dengan doa yang banyak. Dan diantara sekian banyak doa yang kita lantunkan ke langit semesta, sisipkanlah satu bait doa saja untuk mereka “murid-murid yang kita cinta”. Semoga keberadaan sebait doa itu dapat menjadi penambah kebermaknaan dalam kehidupan kita dan anak-anak didik kita.Amiin.


Prasatya H
Bait al Hikmah 2005

Klik disini untuk melanjutkan »»
 
TERIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG
Namablogkamu is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com